In Memoriam: “Lauren”

Saya kenal anak ini sejak hari pertama sebagai siswa SMAKBO. Bersama 16 orang lainnya, kami dipersatukan dalam satu kelompok bernama Krem-Putih, karena memang kelompok2 di MOS angkatan kami dilambangkan dengan bendera 2 warna. Singkat cerita, mayoritas anggota kelompok memilih saya untuk jadi ketua. Dan saya masih ingat, orang ini ikutan menunjukku dari awal (haha, I hate you for this, bro! Lol, jk).

Masih ingat kami bersalaman, dan saya mendengar nama “Lauren”, kata dia memperkenalkan diri. “Wait, Lauren bukannya nama perempuan?” Sempat kukonfirmasi, dan iya betul dia bernama lengkap Laurentius Aji Dwipermana. (Yap, saya masih ingat nama lengkapnya, karena ketua kelompok wajib ingat semua nama anggotanya.)

Singkat cerita lagi, minggu “neraka” itu pun berakhir. Kelas matrikulasi juga berlalu, dan seangkatan lalu dipecah menjadi 6 kelas.

Sebagai siswa kismin yang tidak berduit, aku sudah cukup bahagia masuk kelas reguler. Keputusan itu membuahkan saya dijebloskan ke kelas 10-4 (yang selanjutnya disebut Psikopat, perkumpulan siswa anak sapuluh opat). Di kelas itulah, saya ternyata bertemu lagi dengan “Lauren”, yang beberapa hari setelahnya diganti penyebutannya jadi “Loren” supaya lebih maskulin (karena orangnya memang maskulin).

Ada beberapa hal yang membuat saya ingat dengan Loren. Please, let me put them in a list.

-Satoe-
Dia itu, ya Allah ya Tuhanku, suaranya bagus! Beneran yah, setiap saya denger suaranya merinding ini kulit! Tak heran, talentanya membuat dia jadi anggota padus, alias paduan suara angkatan 54. (Sedangkan sayah mesti cukup puas dengan menjadi anggota padus yang lain, alias paduan usus *maaf garing). Oiya, ada satu memori lagi yang paling saya ingat, ya itu ketika di Psikopat, ada geng bernama D’Manyun. Di situ, Loren dan beberapa agents (siswa laki-laki Psikopat) lain menyanyikan lagu yang berjudul “Susanna Mandi”. Suara mereka bagus, sangat artistik dan kreatif. Tapi sayang, lirik lagunya teramat bodoh, haha.

-Doea-
Diem2, dia itu berjiwa pemimpin! Gara-gara itu, dia terpilih jadi pemimpin pasukan pengibar bendera angkatan. Tak berhenti di situ, dia juga terpilih jadi pengurus Persatuan Pelajar (OSIS nya SMAKBO) dari kelas 10 (di sini ingatan saya samar2, mungkin saya salah). Beneran yah, mengenai ini saya ngga terima. Tanya kenapa? Karena dia sekelompok dengan saya saat MOS, tapi dengan santainya nunjuk sayah yang kayak tengkorak berjalan ini buat jadi ketua. I mean, plis deh, tau gitu saya lempar balik itu ke Loren, haha. Dasaaarrr!!! :’)

-Tiga-
Loren itu salah satu penanda saya setiap pembagian buku PR yang berdasarkan nomor absen. Kalau ngga salah urutannya begini: Kevin no 23, Loren no 24, Maulana no 25, Melvi no 26, Mita no 27, MRAS (sayah) no 28. Dia juga jadi penanda saat kelas olahraga, jadi kalau dia dipanggil, saya mesti siap-siap dipanggil karena 2 orang setelahnya mesti dites lari. Btw, Loren larinya lumayan cepet loh!

-Empat-
Selama masih kelas 10, anak Psikopat hobi banget jalan-jalan. Sebut saja Monas, Ancol, Cibodas, Puncak, dan destinasi lainnya. Saya sering absen, tapi sering ikut juga. Sekalinya ikut, biasanya ada Loren di rombongan. Bersama anak-anak Psikopat lainnya, dia sering melempar candaan yang kadang di luar nalar. Pernah suatu saat ketika perpisahan 10-4 di Villa Adam di Puncak (bener ga sih nama villa nya? Haha), Loren dan beberapa teman lain melemparkan joke mengenai nyamuk Amazon. Seriusan yah, nyaris 14 tahun, saya ampe sekarang ngga paham itu becandaan, haha.

-Lima-
Masa Psikopat pun berakhir bersama dengan kami semua naik kelas. Tapi dengan Loren, kadang saya masih berinteraksi beberapa kali lewat kegiatan Persatuan Pelajar seperti MOS, PORSIP, SOC, dll. Mungkin itu memori terakhir yang membekas dari Loren.

Singkat cerita lagi, kami pun lulus. Terakhir kali saya ketemu Loren sepertinya ketika acara Negaplex, yang kebetulan dilangsungkan ketika saya sedang pulang ke Indonesia tahun 2015 (atau 2017? Lupa). Dan saat itu kami ngga terlalu banyak ngobrol. Semua baik-baik saja, dan berlalu seperti angin.

Hingga tiba-tiba, beberapa hari yang lalu, angin membawa kabar yang tak bagus. Di grup WA angkatan, Loren dikabarkan sedang sakit. Awalnya saya tidak tahu Loren sedang sakit apa, tapi saya tahu itu serius karena sampai dipantau oleh beberapa teman dekat lain. Kalau boleh jujur, saya ada firasat tidak enak sejak dengar berita tersebut. Saya hanya bisa berdoa hari itu supaya firasatku meleset.

Sayangnya, malang tak bisa dicegah. Hari ini, tanggal 13 April 2022, Loren meninggalkan kita semua.

Loren, gue ngga tau apakah lu bisa baca postingan blog ini setelah di-publish atau ngga. Gue paham, kita ngga terlalu banyak interaksi bahkan ketika kita sekelas dulu. Tapi ada satu hal yang gue pengen kasih tau ke lu: gue bangga punya temen kayak lu!

Alasannya? Karena kamu diem2 pas MOS, eh taunya leader yang karismatik mabro! Gue sempet mikir, ini anak kalo jadi tentara kayaknya bisa jadi jenderal atau apa pun itulah yang jabatannya tinggi! Hmm, mestinya gue lebih gamblang ya dulu ngasih tau harapan gue, haha.

(Note: Saya senang bilang ke orang-orang di sekitar mengenai gambaran masa depan orang ybs. Ada beberapa yang tepat dan akurat, walau 90 persen meleset, haha. *Verifikasi dan validasi gagal)

Bersama post ini, saya ingin bilang ke Loren, terima kasih banyak atas memori bersama dan candaan ringannya. Hal yang seperti itu kecil, tapi lumayan berdampak buat saya. Di mana pun jiwamu berada sekarang, terkirim doaku yang terbaik untukmu.

Rest in Peace: Laurentius Aji Dwipermana

Kedua dari kanan. Seriusan, itu lu ama Opik ngeliat kemana sih? Haha. :’)

Selamat jalan, Psikopat Agent 24.

Renungan menjelang fajar…

Bulan April 2022 (sebulan lagi!) akan jadi penanda 9 tahun ku menginjakkan kaki di tanah antah berantah ini. Tak terhitung pengalaman dan pelajaran yang didapat. Banyak juga yang terlewatkan, ini yang mengintegrasi menghasilkan aku yang sekarang.

Mungkin di sana ada yang komentar: lama di negeri orang, kapan pulang? Percayalah, kalau aku pulang sekarang aku tak punya (dan tak bisa melakukan) apa-apa. Ngga mau kan lihat sayah jadi pengangguran tragis di Indo?

Bisa jadi ada di sana yang bertanya: 9 tahun di Jepang kok belum jadi orang kaya? Kenapa ngga coba buka usaha A,B,C…X,Y,Z? Hmm, tak bisa kupungkiri aku dapat uang lumayan banyak dari beasiswa dan gajiku sekarang. Saya sangat bersyukur untuk hal itu, saya bisa renovasi rumah dan menabung. Tapi, saya punya keluarga yang alhamdulillah-nya, belum bisa 100% mandiri secara finansial, dan mereka adalah fokus utamaku sebagai ladang pahala. Ingat, nafkah dan sedekah yang paling utama itu untuk keluarga sendiri. Mengenai bisnis, kita sudah dan sedang coba beberapa hal. Kebetulan naik turun karena usaha kami sangat terdampak oleh pandemi. Saya punya drama di dalam hidup, dan itu mungkin sulit dimengerti untuk kalian.

Pertanyaan lain bisa jadi muncul: lama di Jepang kok belum nikah? Haha, untuk ini aku cuma bisa ketawa. Sampai saat ini saya udah deket sama beberapa perempuan, dan sayangnya belum jodoh. Sempat sekali nyaris menikah, ternyata sayah sendiri yang belum siap. Bukan, bukan belum siap secara finansial, apalagi mental takut dengan menjalani kehidupan berkeluarga. Melainkan, lebih ke “belum siap mengorbankan cita2 demi keluarga masa depan”.

Aku, sebagai anak dari broken family dengan kemampuan ekonomi yang serba seadanya, sedikit banyak paham rasa. Efek perceraian itu ngga sedikit dan ngga sebentar. Dan buat keluarga kami, efeknya bisa terasa selamanya. Tapi, walaupun banyaknya saya lebih merasakan derita sebagai anak, saya bisa menyerap banyak hal mengenai perceraian dari sisi orang tua. Dari cerita ibu dan bapak, saya jadi ngerti kronologi mereka dulu ketemu, apa yang dihadapi selama ada dan tidak ada kami anak-anaknya, dan ketika masa perceraian.

Mungkin terdengar gila, tapi justru saya malah bersyukur dengan bercerainya orang tua saya. Walau outcome nya jelas negatif, namun mereka lepas dari sisi buruk masing-masing pasangan, dan khusus untuk saya, terlepas dari kemungkinan kerugian finansial jangka panjang. (Yes, you read it right!)

Intinya, dengan segala kekurangan yang ada, sebenarnya saya sangat bangga dengan diriku. Dengan berbagai hal yang menghadang, bisa bertahan hidup, TIDAK MENYERAH DAN TIDAK BUNUH DIRI itu merupakan prestasi besar bagi saya. Semoga diri ini makin kuat dengan semakin tambah usia, aamiin.

Note:
Mengenai perceraian keluarga, ceritanya kalau ditulis, bisa jadi buku tebal 150 halaman lebih kayaknya, haha. Btw, kalau sayah publish buku cara survival untuk anak broken home, bakal ada yang beli ngga ya? Pengen nulis buku ttg itu, tapi garing kayaknya kalau ngga ada yang baca…