Persentasi

Aku itu ada di berapa persentil?

Apakah aku ini miskin?

Apakah aku ini bodoh?

Atau, jangan-jangan selama ini aku membuang waktu hidupku untuk menjadi sesuatu yang membosankan, tak istimewa?

Tak berguna?

Aku ini apakah ada di kelompok yang kalah?

Yang dicemooh oleh mereka yang ada di atas?

Atau bisa jadi aku itu masuk golongan orang tak bersyukur?

Serakah akan semua?

Ingin meraup rezeki beribu bahkan berjuta orang?

Apakah aku ini sial? Aku tak tahu…

Apakah aku ini beruntung? Orang mungkin pikir begitu…

Tapi semua orang hidup di dalam pertanyaan

Terancam kehampaan, terjual fantasi

Terimpit jari orang, terkalahkan oleh tuan

Sampai kapanpun dunia tak akan pernah adil

Tahu itu, rasanya aku lelah hidup

Kalian tahu apa yang membuat aku masih tahan?

Bukan diriku

Tapi itu adalah orang lain…

Aku paham, bahagiaku ada di bahagia yang lain

Tak paham? Biar, aku tak memaksa

Acuhi semua bilangan itu…

Toh aku mati nanti hanya berkain kafan

Arti hidupmu apa?

Kita lihat apa mentari esok masih dari timur atau tidak…

#coretanisiotak

Advertisements

Dua Dekade yang Terbang Perlahan

April lalu, persis setelah ulang tahun ke-25, saya dikirim beberapa foto yang lumayan buat hati mencelos via WA oleh ibu saya. Foto 20 tahun yang lalu. Biarkanlah saya tempel sedikit kenangan di sini, kenangan yang tak bisa terulang dua kali di alam dunia ini.

Melihat foto, ada Enih (nenek) dan Engking (kakek). Paling sayang saya sama Enih, karena 13 tahun banyak merepotkan. Masih segar dalam ingatan, kenangan makan teri yang dibakar di api lilin (dulu daerah Puncak sering mati lampu), atau dimasaki sayur kacang merah, atau kenangan sering dicarikan daun Ginkgo biloba di sawah setiap ujian caturwulan datang. Engking juga ngga kalah seru. Dulu pernah dimarahi ama beliau karena apa gitu (beliau kayaknya tidak terlalu suka anak-anak), jadi sebagai balas dendam, kita cucu-cucunya membuat kopi yang diberi garam, bukan gula. Dan itu ngga sekali, tapi pernah juga di lain kali kita kasih bumbu Ma**ko ke dalamnya. Jahat memang, tapi lucunya beliau minum dengan lengangnya. Oke, ini jangan dicontoh.

Ada juga foto sekeluarga besar. Kalau dilihat-lihat, itu kayaknya masih tahun 1997an. Semua masih muda, masih bugar. Jadi iri rasanya dengan orang-orang di foto tersebut, hehe.

Dua foto lainnya itu ketika adik pertama sudah lahir, sepertinya tahun 2002. Foto bersama ibu yaitu ketika kita lari pagi. Kedua foto itu, saya pakai baju kesayangan bergambar singa. Entah, kenapa dulu saya suka baju itu.

Curcol sedikit, masa kanak-kanak itu memang paling menyenangkan. Tak hanya karena bisa main sepuasnya, tapi di luar itu juga. Salah satunya itu tak punya pikiran kotor apa-apa.

Ingat sekali dulu saya tidak percaya dengan kata-kata orang sekitar kalau ketika sudah beranjak tua itu apa-apa terasa susah. Ketika belajar, susah masuk ke otak karena kebanyakan pikiran lain. Ketika diceramahi pelajaran moral, sulit diberitahu karena sudah terlalu banyak pengaruh dari lingkungan. Diringkasnya, “Bapak/ Ibu mah sudah terlalu banyak dosa, nggak seperti kalian yang masih muda.”

Dan sekarang, banyak yang saya rasakan dan karenanya, saya pun paham dan menjadi percaya. Saat ini, hal yang paling bisa lakukan hanya ber-istighfar sebanyak-banyaknya. ^^”

Memang ya, masa itu mesti diapresiasi sebesar-besarnya. Sering menyesal saya kenapa dulu tidak bersyukur banyak-banyak akan masa yang sekiranya lebih enak dari sekarang. Tapi karena itu berulang, saya sering merasa bodoh juga.

Cukuplah syukuri hari ini, Ong. Supaya besok tidak menyesal lagi, hehe

By the way, sudah bulan Juni. Rangkaian rencana akan rampung beberapa saat lagi. Dan setelahnya, beberapa ujian penting akan datang melanda. Tes JLPT N1, ujian masuk S2, dan banyak seleksi beasiswa. Mohon doanya agar dilancarkan, aamiin. 🙂