Aspecia Ka Zae, dari Anak Didikmu

Saya kenal PMR sejak SD, jadi ketika melihat penampilan apik kakak kelas ketika demonstrasi proses evakuasi korban perang saat serangan udara saat acara MOPD SMP, saya nyaris ngga berpikir dua kali untuk memilih ekskul lain selain PMR. Dan di situlah saya bertemu dengan satu sosok muda bersemangat nan bersahaja, yang bernama Ka Zaelani. Kakak yang sering dipanggil Ka Zae ini, merupakan anggota KSR (Korps Sukarela, badan yang bertugas menjalankan administrasi, pendidikan, maupun kegiatan penanggulangan pasca bencana di bawah Palang Merah Indonesia) yang sekaligus seorang pelatih Ekstrakurikuler PMR Raka Muda Unit SMP Negeri 1 Ciawi – Bogor. 
Teringat di tahun pertama SMP, sekolah itu masih 6 hari seminggu. Jam ekskul wajib itu ketika hari Kamis sore (pernah pindah hari Rabu). Tapi khusus PMR, selain satu hari itu, ditambah latihan hari Sabtu sore dan Minggu. Jadi bisa dikatakan kalau dulu ikutan ekskul PMR di SMP saya, nyaris ngga ada yang namanya libur. Awal-awalnya sih semangat banget bisa setiap hari ke sekolah. Tapi emang dasar karena rumah saya jauh (berangkat 30 menit pakai angkot, tapi pulang sejam lebih karena naik gunung, segitu belum ditambah beberapa jam kalau terjebak satu jalur di Puncak), terus latihan ekskul yang semi-militer, saya kadang2 bolos.
Yap, salah satu ketakutan dan kemalasan saya latihan, salah satunya karena Ka Zae ini. Dulu beliau galak, kalau kami berbuat salah ketika latihan Pertolongan Pertama, satu kelompok bisa dapat hukuman “bending” (read: squad jump) yang jumlahnya bisa beratus-ratus, cukup untuk membuat kaki terasa gempor sehari setelahnya. Segitu belum termasuk ujian tertulis dengan soal yang susah, kadang-kadang absurd dikerjakan dalam waktu singkat.
Tapi Ka Zae ngga serta-merta jahat di segala kesempatan. Beliau itu baik banget di luar latihan. Bisa banget di ajak bercanda, ngelawak, dan ketawa. Pinter banget kalau ditanya urusan obat, malah kayaknya orang-orang apotik pun kalah sama beliau. Beliau bijaksana pula, saya sering nanya-nanya tentang masa depan ke beliau. Sehabis latihan, kita suka ngobrol rame-rame memenuhi ruang UKS yang luasnya cuman 3×3 meter, tapi diisi sama 10-15 orang. Panas, tapi kita senang.
Sebetulnya, ada momen di mana saya paling kagum sama beliau. Yaitu ketika Jumbara (Jambore nya anak PMR) tingkat Kabupaten-Kota Bogor tahun 2006. Pada saat itu, saya bersama kelompok ditugaskan untuk mewakili sekolah di lomba Pertolongan Pertama. Tandu sudah dibuat, korban sudah dirawat, kemudian dievakuasi melewati rintangan (gotong-gotong tandu di sungai) sampai ke tempat yang aman, sampai tibalah kami di pos terakhir, pos praktik dan pertanggungjawaban. Pada saat itu, cuman satu orang yang boleh masuk pos terakhir itu, dan sialnya, saya lah yang terpilih, padahal waktu itu saya masih kelas 1. Ketika masuk ke pos, dicecar lah saya dengan pertanyaan yang ngga bisa saya jawab, yang karenanya saya tiba-tiba jadi blank ketika mesti memperagakan CPR di sesi praktik. Gagal total, saya lalu pulang ke tenda menceritakan apa yang terjadi. Tapi karena ngerasa mengkhianati kerja keras kelompok, saya pun ngga kuat lalu pergi, menangis di dalam tenda. Saya ingat sekali, saya menangis sekitar 5 jam di tenda, sendirian karena yang lain sedang lomba di tempat lain. Beberapa orang yang selesai lomba menghampiri, mencoba menghibur tapi saya masih sedih. Dan ketika Ka Zae datang, saya takut sekali akan dimarahi oleh beliau. Tapi nyatanya beliau cuman datang menemani beberapa detik, menepuk punggung terus balik lagi ke luar tanpa mengucapkan sepatah kata, meninggalkan saya yang heran sekali kenapa beliau ngga marah. Beberapa jam berlalu, saya pun selesai menangis, kemudian pergi keluar menuju api unggun dengan kuali yang sedang memasak nasi liwet, makan malam kami. Tak ada yang membahas tentang lomba, sama sekali pada malam itu. Mereka tertawa dan bernyanyi diiringi gitar tanpa ada masalah apapun.
Setelah momen itu saya yakin sekali kalau yang membuat kondisi seperti itu adalah Ka Zae dan para kakak kelas, terlepas karena saya yang skor penjurian sekolah kami ada di urutan  paling akhir. Saya yang awalnya merasa tertekan, jadi merasa terharu. Semenjak hari itu, saya jadi bisa lebih semangat belajar dan latihan PMR, walhasil lomba PMR yg saya ikuti hampir selalu mendapat minimal piala juara 3. Puncaknya yaitu ketika saya dan Taufik menjuarai Lomba Ketangkasan Tandu tingkat se-Jabodetabek di Bogor pada tahun 2007, salah satu prestasi yang paling terkenang di zaman SMP.
Singkat cerita saya pun lulus SMP. Beberapa hari sebelum perpisahan, kami pengurus PMR mengadakan pertemuan, pelepasan untuk para calon wisudawan. Pada saat itu saya tak terlalu sedih, karena saya tahu minimal setahun sekali saya datang ke SMP untuk mengunjungi Ka Zae dan PMR binaannya, seperti yang saya lakukan ketika masih di Bogor. Tapi setelah saya menerima pengumuman saya akan ke Jepang 4 tahun lalu, pertemuan terakhir di SMP itu bisa dibilang paling emosional. Saya ingat sempat memperagakan salam “cetrekan jari” khas PMR Raka Muda, kemudian berpelukan dengan beliau, mengucapkan sampai jumpa lagi. Pada saat itu beliau masih sehat, jadi saya agak percaya diri akan bertemu lagi dengannya.
Tapi kembali, rahasia umur hanya Allah yang tahu. Setahun yang lalu, beliau masuk rumah sakit atas penyakit komplikasi TBC dan diabetes. Sejak saat itu beliau bolak-balik rumah sakit, kegiatan melatih dan membina PMR pun tak elak mesti dipindahtangankan. Semenjak itu jujur saya takut dan tak bisa membayangkan dengan kondisi kesehatan buruk dan ekonomi keluarga yang pas-pasan, Ka Zae mesti menjalani hidup. Saya yang jauh pun sama sekali ngga bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa.
Hingga siang hari ini, saya menerima kabar dari Endah, ketua PMR angkatanku, mengatakan Ka Zae sudah tidak ada di dunia. Hati mencelos, cuma bisa menyela diri tak bisa apa-apa, tak bisa dibandingkan dengan jasa beliau selama saya di SMP.
Innalillahi wainnailaihi rajiun. Selamat jalan Ka Zae, semoga amal ibadah Kakak selama ini diterima Allah SWT. Semoga sakit kakak selama ini menghapus dosa, sehingga bisa diluaskan kuburnya, diberi pertolongan, dan disampaikan ke surga-Nya kelak. Insyaallah amal jariyah kakak masih jalan, saya masih pakai ilmu dari kakak sampai sekarang. 🙂
Tahukah ka? Sebetulnya kalau kita bisa ketemu, saya pengen banget berdebat jawaban salah satu soal ujian kenaikan tingkat, yang diselenggarakan jam 2 malam di tengah lapangan itu. Soal “Gambarkan suasana malam ini!” itu jawabannya bukan [kosong] ka. Tanya kenapa? Karena saya melihat sosok kaka duduk di atas meja kayu pada malam itu, sedang mendikte kertas soal, dan itulah yang saya gambar di kertas jawaban. Sosok itu juga yang saya ingat setiap ingat nama seorang “Ka Zae”, kak. :’)
Kak, semoga kita bisa ketemu lagi di alam berikutnya, dalam keadaan yang sebaik-baiknya, aamiin… 
***
Foto setelah Jumbara, kita ada di dua sudut berbeda, hehe 🙂

Sedikit Mengulik “Herman Busser”

herman-busser

Herman Busser; foto diambil dari akun IG saudara Yuzevan.

Siapa sih anak SMAKBO yang ngga tau Herman Busser? Yap, beliau adalah orang Belanda yang sekaligus merupakan direktur pertama dari SMAKBO, atau yang di zamannya masih bernama Analyten Cursus. Pada kesempatan kali ini, saya pengen sedikit nyoba-nyoba ngegali informasi yang ada di internet mengenai beliau.

Sebenernya cuman iseng aja, gara-garanya kemarin dapat berita menggembirakan dari sohib seangkatan yang akan menikah, walhasil beberapa jam terakhir ini, saya dengan suksesnya flashback berkali-kali mengenai SMAKBO. Ngga cuma saat-saat sekolah, bahkan labas hingga ke tahun-tahun pra-kemerdekaan RI, sekitar tahun 1940-an (padahal ibu bapak saya pun belum lahir saat itu, hehe).

Note: Ini bukan pencarian yang bersifat formal, apalagi professional. Bisa jadi betul, bisa jadi salah, karena perihal itu hanya Allah yang tahu. Percaya atau tidaknya, kembali ke pribadi masing-masing.

OK, mari kita mulai.

Salah satu penemuan menarik saya, yaitu data Herman Busser yang didapat dari salah satu website Belanda, yang saya perkirakan merupakan catatan sipil jaman baheula yang kemudian dibuat versi digitalnya. Tidak hanya itu, ternyata di website tersebut diberi kesempatan pula buat penggunanya untuk berbagi silsilah keluarganya, yang bisa jadi berguna untuk orang lain ketika bertanya-tanya seperti apa sih nenek moyang mereka di jaman dahulu. Link-nya:

https://www.genealogieonline.nl/parenteel-leurink-achterhoek/I4914.php

Kalau yang tercatat di laman itu adalah benar Herman Busser yang saya cari, bisa dibilang beberapa hal berikut.

  • Herman Busser lahir dari pasangan Harmen Busser dan Janna Mulder pada tahun 1892 di Deventer, Belanda. (Bagi yang penasaran Deventer itu seperti apa tempatnya, bisa dibaca link wiki berikut.) Yap, sayangnya tak ada keterangan tanggal pasti beliau lahir, tapi untuk permulaan tak masalah lah, ya.
  • Profesi beliau adalah onderwijzer, yang setelah di-translate ternyata artinya guru. (OK, sekian persen menuju ke Herman Busser yang kita maksud).
  • Beliau menikah pada tanggal 31 Desember 1919, berpasangan dengan Ny. Everdina Carolina Peters, di Deventer. (Saya sebenarnya penasaran apakah beliau betul-betul menikah pada persis hari terakhir di dekade 1910-an, atau catatan sipil di sanalah yang membuat tanggal pernikahannya menjadi akhir tahun. Tapi kalau hal pertama yang saya sebut tadi benar, kurang romantis apa coba beliau? Hehe.)
  • Beliau wafat pada tahun “????”. OK, di sini kita menemukan fakta kalau tak ada keterangan mengenai tanggal pasti di mana dan kapan beliau wafat. (By the way, saya belum pernah ikut napak tilas atau acara HASKA semacamnya semenjak lulus SMAKBO, yang bisa jadi pada acara tersebut dijelaskan lebih detil mengenai ini. Kalau ada yang tahu, boleh beritahu saya. Sharing is caring. 🙂  )
  • Istri beliau lahir pada tahun 1891, dan wafat pada tahun “????”. (Kembali kecewa.)

Ketika saya melihat laman ini, sebetulnya setengah puas dan ngga puas. Puas karena tahu masa ketika beliau hidup jadi bisa imajinasi sendirian (hobi rahasia yang kini terbongkar). Ngga puas karena cuma segitu data yang didapat. Tapi memang ngga bisa disalahkan. Data  mengenai beliau bisa saja jadi begitu karena beliau pindah ke Hindia Belanda, yang dipastikan pada masa-masa di mana manusia masih bisa berkomunikasi tanpa handphone (karena memang tak ada handphone) dan internet tidak merajalela seperti sekarang, sistem pencatatan kependudukan di Hindia Belanda bisa jadi terpisah dan kurang terintegrasi dengan pusatnya di Belanda. Walhasil, tak ada datanya deh di website.

Tapi, kalau kita telusuri kembali sejarah BBIA (Balai Besar Industri Agro), tempat di mana gedung SAK berada di zamannya, bisa jadi kita bisa menelusuri sesuatu. Jadilah saya bermain ke website tempat Prakerin saya 5 tahun yang lalu (meluncur!).

Data yang saya peroleh dari laman website BBIA (link), berikut hasil yang saya dapatkan.

  • 1909 : Awal berdiri dengan nama Biro Analisis Pertanian dan Perdagangan
    (Bureau voor Landbouven Handel Analyse)
  • 1945 : Balai Penyelidikan Kimia
  • 1980 : Balai Besar Industri Hasil Pertanian
  • 2002 : Balai Besar Industri Agro

Mengingat pada tahun zaman Herman Busser hidup itu sedang banyak-banyaknya gejolak politik dunia, sebut saja Perang Dunia I dan II, dan juga perjalanan kapal laut jaman baheula yang bisa memakan waktu berbulan-bulan (bisa sampai 3 bulan sekali jalan, walaupun via Terusan Suez), perjalanan Herman Busser ke Hindia Belanda itu bukan main-main kalau saya bayangkan. Walaupun dikatakan kedatangan beliau atas permintaan pemerintah Belanda karena profesinya sebagai guru, tapi perjalanan panjang seperti ini bagaikan tiket perjalanan dari proyek peluncuran manusia dari bumi ke planet Mars. Yap, tak ada tiket pulang. (By the way, bisa jadi salah, karena mungkin saja beliau pulang ke Belanda lagi ketika Jepang menduduki Indonesia di tahun 1942-1945).

Jadi misalkan beliau masih berada di Belanda pada tahun 1919, sambil menimbang-nimbang sejarah BBIA dan data yang ada, bisa didapat kesimpulan bahwa perkiraan beliau (bersama istri) menapaki tanah Nusantara itu antara tahun 1920-sebelum 1942, ATAU setelah kejatuhan Jepang di Perang Dunia II yaitu pasca tahun 1945. Yang kemudian berdasarkan sejarah SMAKBO (link), pada tanggal 1 September 1950 beliau menjadi direktur Analyten Cursus, yang dengan kata lain, menjadi kepala sekolah pertama dari dinasti SMAK Bogor.

Kenapa saya peduli dengan ini?

Mungkin ada di antara kalian yang menanyakan hal, kenapa ketika kita sudah berganti abad bahkan millenia, ketika orang Indonesia lagi banyak-banyaknya perang adu mulut di dunia maya seperti sekarang, saya masih peduli dengan orang Belanda yang satu ini. Yap, sebenarnya salah satu pemicunya adalah video Youtube ini. Dari video ini, diketahui kedatangan bangsa Eropa (kemungkinan Belanda) pada pertengahan abad ke-16 ke Jepang, di mana mereka punya 3 misi utama yang persis sama dengan misi Belanda datang ke Nusantara, yaitu Gold, Glory, and Gospel. Lebih dari itu, mereka sering melakukan perdagangan dengan bangsa Jepang setelahnya, bahkan ketika Dinasti Edo, era kekuasaan di mana penguasanya mengunci akses dari dan menuju Jepang. Bangsa Belanda punya hak atas perdagangan tersebut karena selain perdagangan berupa produk seni dan perkebunan, mereka melakukan pertukaran budaya juga melalui perdagangan buku-buku barat. Di buku-buku tersebut bangsa Jepang banyak mengetahui teknologi yang berkembang di Eropa, lalu menerapkannya di tanahnya sendiri.

Dan mengenai itu, saya sadar juga kalau bangsa Belanda mempunyai peranan penting di dunia ilmu pengetahuan ketika jaman kolonial bahkan sebelumnya, yaitu semenjak abad ke-17. Jadi tak heran, mereka maju perihal teknologi.

Walaupun memang, betapa sakit kita dijajah beratus-ratus tahun oleh bangsa Belanda, tapi ada beberapa keuntungan yang datang dari mereka. Salah satunya adalah pendirian lembaga ilmu pengetahuan seperti universitas dan sekolah profesi, yang salah satunya menjadi SMAK Bogor yang sekarang kita kenal.

Saya termasuk fans sama satu buku karangan Herman Busser. Buku yang menemani saya ketika mengerjakan lapsus Gravimetri dulu, Penuntun Analisis Djumlah. Yang menarik, ternyata beliau mengarang buku lain juga seperti Penuntun Mentjelup dan juga (kemungkinan) ikut andil dalam penyusunan berbagai terbitan dari Komisi Istilah, badan kenegaraan pasca-kemerdekaan yang bertugas untuk mengumpulkan istilah linguistik yang ada di Indonesia sebagai pedoman serta pengayaan berbahasa dan pendidikan.

Dengan kata lain, saya peduli dengan Herman Busser karena ngga semata-mata beliau tinggal di Indonesia ikut jadi koloni karena perintah Belanda, tapi beliau berperan juga untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan industri di Indonesia.

Pada saat dulu masih sekolah di SMAKBO, memang saya tidak terlalu sadar akan hebatnya keberadaan buku “Penuntun Analisis Djumlah”tersebut. Mungkin memang karena beliau hidup lumayan jauh setelah zaman-zaman Alfred Nobel menemukan dinamit atau Marie Curie meneliti berbagai zat radioaktif. Tapi sadarkah kalau misalkan tak ada buku tersebut di masanya, kita akan lebih tertinggal dalam perihal analisis kimia ketimbang negara-negara lain. Coba pikirkan juga negara-negara jajahan lain yang sekiranya bermodal nol setelah merdeka dari penjajahnya. Bisa jadi mereka lebih sulit mengejar dari kita-kita sekarang yang (agak sedikit) lebih enak tinggal meneruskan.

Yap, semoga bisa jadi bahan pembelajaran buat semua. Dan saya pun punya bahan imajinasi lain sebelum tidur malam ini, hehe.

Wallahualam bisshawwab.

Note:

  • Jika misalkan tahap penyusunan Penuntun Mentjelup yang terbit pada tahun 1954 tidak menggunakan jasa penerjemah atau penggubah orang pribumi asli, hampir dipastikan kalau kedatangan Herman Busser ke Nusantara adalah bukan setelah kemerdekaan, melainkan sebelum tahun 1942.
  • “Busser” adalah termasuk dalam nama belakang populer di Eropa. Seperti kebanyakan nama orang barat yang diserap dari nama pekerjaan, kata Busser berasal dari Jerman, yang memiliki arti cobbler/ tinker atau tukang reparasi sepatu.